Hari Tani Nasional dan Ironi Pertanian

Hari Tani Nasional yang bisa menjadi hari besar bagi seluruh petani Indonesia diperingati setiap tanggal 24 September bertepatan dengan disahkannya Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, yang seharusnya menjadi momentum kebangkitan petani Indonesia. Kondisi ini didukung oleh Keputusan Presiden No. 169 Tahun 1963. Undang-Undang Pokok Agraria Mengamanatkan terwujudnya keadilan sosial dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia melalui pelaksanaan reforma agraria yang memiliki program pokok penyediaan tanah dan program pendukung lainnya untuk petani. Hari Tani Nasional menjadi sebuah keharusan manakala sejak dahulu kita menjuluki Indonesia sebagai negara agraris dan bangsa petani. Namun, memasuki hari tani ke-57 tahun hari ini, sangat disayangkan karena amanat tersebut tidak sepenuhnya dijalankan. Hingga kini, nasib kaum tani tidak kunjung membaik.

Peringatan hari tani nasional dari tahun ke tahun nampak seperti sebuah ironi sebagai negara agraris dan bangsa tani. Ironi karena pada saat ini dalam pemenuhan sebagian besar kebutuhan pangannya, Indonesia masih mengimpor bahan pangan dalam jumlah yang besar. Garam, kedelai, jagung masih kita impor dalam jumlah yang besar setiap tahun. Selain masalah impor pangan yang seharusnya bisa diselesaikan, kemiskinan di pedesaan semakin luas karena ketimpangan penguasaan dan kepemilikan tanah yang semakin tajam. Kondisi ini sangat berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat tani. Dominannya produsen kecil pertanian dan sempitnya rata-rata kepemilikan lahan pertanian yang hanya 0,89 ha per petani merupakan tantangan besar dalam mempertahankan dan meningkatkan produksi serta menjadikan rumah tangga produsen pangan sejahtera.

Presiden Jokowi memulai pemerintahannya dengan menjanjikan pelaksanaan reforma agraria melalui Nawa Cita dan RPJMN 2015-2019. Pelaksanaan tersebut diterjemahkan ke dalam dua skema, yaitu redistribusi tanah dan legalisasi aset dengan target sembilan juta hektar bagi petani. Cukup disayangkan lagi bahwa memasuki usia tiga tahun pemerintahan Jokowi belum ada lembaga pelaksana reforma agraria. Berbagai kebijakan ekonomi yang kontradiktif dengan cita-cita reforma agraria juga memperburuk penyimpangan yang terjadi. Pemerintahan Jokowi terlihat tetap melaksanakan kebijakan investasi antirakyat yang semakin melanggengkan masalah kesenjangan dan ketidakadilan yang dialami oleh petani. Kebijakan yang dimaksud adalah pengadaan tanah untuk kebutuhan pertambangan dan reklamasi, impor pangan yang sempat disinggung sebelumnya, dan Undang-Undang Tax Amnesty.

Kesenjangan yang terjadi dapat meningkatkan potensi konflik agraria di berbagai daerah yang berimbas pada tindakan represif dan kriminalisasi terhadap perjuangan rakyat atas hak-haknya. Beberapa contoh konflik agraria yang masih berlangsung di antaranya adalah konflik agararia PT. Bumi Flora dengan masyarakat Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur, Perlawanan Petani Kulonprogo Melawan Sultan Ground dan Pakualam Ground, dan konflik agraria di rembang antara PT Semen Indonesia (PT SI) dan Petani Rembang yang masih berlangsung.

Kita melihat berbagai masalah pertanian yang terjadi di negeri ini, maka marilah kita sebagai mahasiswa melakukan refleksi diri. Apa saja peran dan di mana posisi kita sebagai mahasiswa pertanian? Peran dan posisi kita dalam kelas untuk mendapatkan nilai A di atas transkrip nilai tidak akan pernah cukup. Apakah kita hanya akan berbangga dengan julukan negara agraris yang subur di sepanjang garis khatulistiwa? Apakah kita akan sungguh-sungguh memkasimalkan peran kita sebagai mahasiswa pertanian? Begitu banyak harapan akan kemajuan sektor pertanian Indonesia di hari tani ini, hari besar bagi seluruh petani Indonesia. Terlepas dari pemasalahan sektor pertanian, kita perlu tahu bahwa sektor pertanian memegang peran sangat penting bagi perekonomian Indonesia pada khususnya dan kehidupan manusia pada umumnya. Sektor pertanian dan petani dianggap masih urgen untuk dibangun dan dikembangkan di Indonesia. Urgensi tersebut di antaranya adalah sektor pertanian sebagai penyedia pangan nasional, kontribusi besar terhadap PDB nasional, penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia, lahan pertanian yang sangat luas, dan potensi sumber daya alam yang besar dan beragam.

Selamat hari tani nasional! Sejahteralah petani Indonesia! Jayalah pertanian Indonesia!

Penulis : Hilmy Prilliadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *