Tanpa kita sadari masa pemerintahan Presiden Jokowi telah berjalan tiga tahun lamanya. Seorang Presiden yang menyuarakan “Revolusi Mental” kepada bangsa ini. Seorang presiden yang diharapkan mampu menjalankan pemerintahan yang bersih dan berintegritas serta pro terhadap rakyat, terutama rakyat dari kalangan menengah ke bawah. Berbagai jenis keijakan telah diluncurkan, serta pemangunan infrastruktur yang mewah telah mulai digencarkan , tanpa disadari kebijakan yan dibua dan pembangunan yang dilakukan tersebut menimulkan keresahan tersendiri bagi rakyat, terutama kalangan menengah kebawah. Hal tersebut memicu mahasiswa turun langsung untuk membela hak-hak rakyat.

JAKARTA (voa-islam.com), Berbagai upaya telah dilakukan oleh mahasiswa untuk menyuarakan aspirasi rakyak kepada bapak Presiden Jokowi. Mulai dari upaya formal, seperti  pengiriman surat tertanggal, 9 September 2017 untuk audiensi dengan Presiden Jokowi pada tanggal, 2 Oktober 2017. Namun, hingga tulisan tersebut diturunkan tidak ada kejelasan dari pihak istana, bahkan setelah berulang kali upaya penanyaan kabar dilakukan. Kemudian pengiriman surat kembali dilakukan tertanggal, 9 Oktober 2017 untuk meminta audiensi kembali dengan Presiden Jokowi pada tanggal, 20 Oktobber. Namun, lagi-lagi mahasiswa menelan rasa kekecewaan kerana tidak ada kejelasan dari pihak istana setelah berulang kali upaya penanyaan kabar dilakukan. Setelah berbagai upaya formal dilakukan, mahasiswa yang tergabung dalam BEM SI melakukan aksi demo di depan Istana Merdeka pada tanggal, 20 Oktober 2017 (Berdasarkan penuturan langsung Wildan Wahyu Nugroho, Selaku Koordinator BEM SI).

Kegiatan aksi oleh para mahasisiwa yang tergabung dalam BEM SI dilakukan dalam rangka menyatakan kekecewaan dan menyampaikan tuntutan mereka terhadap tiga tahun masa pemerintahan Presiden Jokowi.  Kegiatan aksi diisi dengan orasi-orasi, teatrikal, dan siding rakyat kepada Presiden Jokowi (voa-islam, 2017). Adapun tuntutan BEM SI Jawa Barat yang telah dilansir dari islampos (2017) berdasarkan hasil konfrensi pers di Monumen Perjuangan Bandung, yaitu sebagai berikut.

  1. Tegakkan kembali ekonomi kerayatan.
  2. Monolak Keras proyek Kereta Cepat Indonesia Cina sampai terpenuhinya segala bentuk persyaratan hokum dan kepastian financial kepada masyarakat terdampak.
  3. Menolak proyek bandara Inernasional Jawa Barat sampai adanya kejelasan alih fungsi pendapatan masyarakat terdampak.
  4. Menolak segala bentuk pelemahan pemberantasan pemberantasan korupsi dan penuhi hak pengadaan KTP-el bagi warga Negara yang belum mendapatkannya
  5. Menolak proyek pembangunan yang melangkahi ha rakyat atas ruang hidup.

CNN Indonesia (2017), Selain rausan mahasiswa, aksi demo memperingati tiga tahun pemerintahan Jokowi  juga diikuti oleh awak Tangki Pertamina. Aksi demo tersebut terpecah menjadi tiga bagian, yaitu aksi di Jalan Silang Monas, aksi di seberang Istana Merdeka, dan aksi di depan gedung Kementrian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK). Adapun tuntutan yang disampaikan antara lain:

  1. Pencabutan Perppu Ormas 2/2017.
  2. Memperbaiki keimpangan kesejahteraan.
  3. Memberikan perhatian terhadap para pekerja yang di pecat sepihak oleh PT. Peramina Patra Niaga.

JAKARTA (voa-islam.com), Kegiatan berakhir ricuh pada pukul 23.30 WIB, karena polisi melakukan pembubaran massa aksi secara paksa. Para aparat menekan  massa aksi dan mendorong serta melakukan kekerasan yang mengakibatkan setidaknya tiga orang terluka. Bukan hanya itu, sebanyak 13 peserta aksi demo tertangkap dan dibawa ke Polda Metro Jaya tanpa alasan yang Jelas. Bahkan penangkapan tersebut dilakukan ketika massa aksi telah membubarkan diri (Berdasarkan penuturan langsung Wildan Wahyu Nugroho, Selaku Koordinator BEM SI).

One Reply to “Menyikapi Tiga Tahun Masa Pemerintahan Jokowi”

  1. Menarik apa yang menjadi tema dari pidato Jokowi pada acara Kompas 100 CEO Forum, di Raffles Hotel, Jakarta, Rabu tanggal 29 November 2017 kemarin, bahwa terjadi pergeseran pola konsumsi pada masyarakat belakangan ini.

    Pada acara tersebut Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa ,

    “Di era digital ini terjadi banyak pergeseran di masyarakat, mulai dari pola konsumsi hingga gengsi yang sudah bukan berwujud barang.

    Konsumsi masyarakat saat ini beralih jadi konsumsi pengalaman. Status gengsi seseorang pun bukan lagi persoalan memiliki barang mewah, tapi pengalaman dan petualangan apa saja yang pernah dia jalani.

    Pola konsumsi masyarakat sekarang sudah bergeser, dari belanja barang ke belanja pengalaman, wisata, hiburan.

    Sekarang, di media sosial, menentukan status bergengsi bukan lagi barang mewah. Yang menentukan itu pengalaman, petualangan yang di-upload.

    Perubahan tersebut harus direspons dengan cepat, baik oleh pengusaha maupun pemerintah.
    Momentum ekonomi Indonesia sekarang membaik, lalu kita mau ke mana? Hitungannya kompleks. Namun pada dasarnya, kesimpulan saya adalah sekarang peluang bisnis paling besar ada di daerah. Kedua di sektor pariwisata dan lifestyle.”

    Apa yang disampaikan Jokowi dalam acara tersebut, merupakan “kelanjutan” dari apa yang sempat beliau kemukakan beberapa waktu lalu tentang adanya perubahan “trend belanja” masyarakat, yang ditandai dengan maraknya belanja online yang berkonsekuensi kepada sepinya mal-mal sebagai area pusat perbelanjaan yang selama ini dikunjungi oleh masyarakat.

    Perubahan trend ini pada dasarnya sebagai wujud dari bergesernya sistem komunikasi dan interaksi sosial pada berbagai level pada masyarakat, sebagai akibat dari hadirnya trend jual beli secara digital lewat media internet yang terkoneksi dengan mudah pada berbagai media sosial.

    Media sosial ini akhirnya menjadi kebutuhan mengemuka bagi masyarakat, karena selain murah meriah dan efektif, juga tidak membutuhkan ongkos atau pengeluaran lainnya yang harus menjadi kebutuhan wajib ketika melakukan interaksi. Selain itu juga berlangsung sangat cepat.

    Hal ini mengubah banyak hal dari berbagai aspek kehidupan manusia dan masyarakat yang semula berlangsung secara offline (bersifat fisik dan aksi-lapangan) sekarang cukup dilakukan secara online saja.

    Walaupun interaksi secara offline tetap diperlukan, tetapi hal itu akan dilakukan pada tingkat eksekusi atau “penyelesaian akhir”. Sementara proses sejak awal hingga menjadi kesimpulan untuk eksekusi dapat dilakukan secara online.

    Berbeda bila pada tahapan proses dilakukan secara offline. Membutuhkan biaya, waktu, persiapan dan hal-hal lainnya yang bisa menjadi tak terduga, sesuai dengan perkembangan pada proses yang dilakukan

    Pada saat itu, Jokowi sempat mengemukakan bahwa, sepinya mal-mal atau pusat perbelanjaan di kota-kota besar adalah sebagai konsekuensi dari adanya belanja online, begitu pula pada perkembangan berikutnya yang terjadi pada masyarakat mengenai, apa yang dibelanjakan.

    Jokowi menerangkan lebih lanjut bahwa, apa yang dibelanjakan oleh masyarakat pun mulai mengalami perubahan yang signifikan.

    Selama ini yang menjadi objek dari yang dibeli atau dibelanjakan adalah apapun dalam bentuk barang, kini yang menjadi objek adalah pengalaman. Sementara kuliner belum mengalami pergeseran, atau masih menjadi hal yang utama atau tetap menjadi kebutuhan dalam berbagai aktifitasnya.

    Yang dimaksud dengan pengalaman adalah, bagaimana masyarakat akan mengeluarkan uangnya untuk “belanja” pengalaman, melakukan kunjungan atau aktifitas yang tidak banyak orang lakukan, atau bisa disebut sesuatu yang lain.

    Hal ini terkait dengan bagaimana aktifitas atau tempat yang dikunjungi tersebut akan menjadi sebuah nilai yang akan menjadi status dan gengsi dari yang bersangkutan ketika berinteraksi sosial.

    Pergeseran ini akhirnya menjadikan barang bukan menjadi hal utama dalam mendukung status dan gengsi itu sendiri, tetapi akhirnya menjadi tunjangan yang dibutuhkan untuk mencapai pengalaman itu sendiri.

    Lalu apa yang dimaksud secara konkret tentang pengalaman itu.

    Yang dimaksud dengan pengalaman itu adalah bisa berarti pada sebuah hal yang dilakukan tetapi tidak banyak orang yang bisa mengalaminya. Itu bisa hiburan, wisata atau hal-hal lain diluar ”mainstream” sosialnya.

    Dengan adanya perangkat digital internet melalui media sosial, maka, pengalaman-pengalaman yang terintegrasi pada cerita dan photo lalu di share, maka akan menjadi perhatian lingkungan sosialnya, ketertarikan lingkungan sosialnya itu terhadap apa yang di share, akan menjadikan status dan gengsi yang punya pengalaman tersebut menjadi naik, karena jadi pusat perhatian.

    Status sosial dan gengsi, suka atau tidak, akhirnya ditentukan dari media sosial. Ditentukan secara digital. Selain status dan gengsi yang dikehendaki itu bisa didapatkan secara cepat, juga berlangsung secara murah dan efektif. Cukup dilakukan dimana saja bila kita punya perangkat penyebarnya, yang tentu saja setiap orang sekarang sudah memilikinya.

    Akhirnya trend ini akan mendesak banyak orang yang belum memiliki perangkat tesebut untuk segera memilikinya secara lengkap. Smartphone dengan akses internet, atau computer.

    Penunjang dari pengalaman yang akan menjadi kebutuhan “belanja” masyarakat tersebut, tentu ditunjang dengan berbagai fasilitas dan kelengkapan yang dibutuhkan. Dalam hal ini, pihak ketiga, atau bisa disebut pengusaha, sebaiknya harus “mengendus” peluang ini menjadi sebuah potensi keuntungan.

    Lalu siapa saja yang seharusnya berposisi sebagai “pihak ketiga” tersebut?

    Bisa jadi pemerintah dan swasta. Dalam hal ini, porsi peluang untuk pemerintah juga lumayan besar. Kenapa? Karena bila bicara tentang “pengalaman” yang dimaksud, maka kita bicara “sesuatu” yang “lain daripada yang lain”. Apa itu?

    Mungkin kita bisa mulai bicara tentang, apa definisi dan kecenderungan masyarakat terhadap yang dimaksud dengan “pengalaman”, dan masyarakat yang berasal darimana yang mulai berpikir atau yang mengalami “trend” perubahan pola belanja tersebut.

    Mempelajari pidato Jokowi tentang perubahan trend ini, kita bisa melihat konsumen yang dimaksud adalah perkotaan dan internasional.

    Kesibukan dan aktifitas perkotaan yang dialami oleh masyarakat urban di kota besar, akhirnya akan mengalami kejenuhan terhadap modernisasi dalam hidupnya. Dan akhirnya masyarakat urban tersebut akan mencari sesuatu yang lain daripada yang lain, tentunya diluar berbagai karakteristik modernisasi itu.

    Sementara bagi masyarakat yang tinggal di bukan perkotaan, akan mengalami kebalikannya. Pengalaman yang dimaksud tersebut akan mengalami perbedaan pada definisinya. Mereka justru akan menargetkan kehidupan di kota yang menjadi sasaran dari pengalaman itu dalam menaikan status dan gengsi mereka.

    Kalau hal itu tentu saja kita tidak akan begitu memberi perhatian besar, karena perkotaan yang modernisasi sudah menjadi satu kesatuan. Tetapi masyarakat urban yang ingin mencari pengalaman itu memerlukan sesuatu yang berbeda dari apa yang ada di kota atau perkotaan, maka sasarannya adalah daerah.

    Betapa beruntungnya kita sebagai rakyat Indonesia bila berbicara mengenai eksotisme, keunikan dan lain sebagainya yang bisa dijadikan sebagai sebuah pengalaman, karena kita tidak mengalami kekurangan apapun dibandingkan dengan masyarakat dari Negara-negara lain di dunia ini. Baik dari segi alamnya, budaya dan tradisionalnya, maupun manusianya.

    Tetapi selama pengelolaan yang profesional, sistem yang mapan dan adanya jaminan Keamanan, Kebersihan, Keindahan, Ramah tamah dan Kenangan belum matang, maka daerah-daerah yang punya eksotisme dan keunikan pada berbagai sumber dayanya, belum dapat mencapai hasil keuntungan yang maksimal.

    Besarnya prosentase minat masyarakat perkotaan, ditambah dengan arus turisme yang datang, seharusnya menjadi tolok ukur yang konkret untuk pemerintah daerah dalam membangun daerahnya di satu sisi, karena disisi lain, potensi arus kedatangan turisme terutama lokal, sejak terjadinya pergeseran trend belanja yang dimaksud, maka hal ini akan menjadi kesimpulan baru yang harus ditindak lanjuti untuk mendapatkan keuntungan dalam arus kunjungan turisme tersebut.

    Kembali pada pidato Jokowi

    sehubungan dengan ini, maka kita akhirnya dapat “membaca” bagaimana Jokowi selama ini selalu menekankan beberapa hal yang signifikan seperti infrastruktur daerah, dan revolusi mental, ekonomi kerakyatan serta, harga yang terkendali.

    Konteks ini bersinergi dengan apa yang menjadi isi dan esensi dari pidato-pidatonya bahwa secara nasional, Indonesia harus bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan mendasar tersebut, sehingga bukan saja akhirnya Indonesia akan menjadi sebuah destinasi yang diunggulkan dari segi turismenya untuk disatu sisi, tetapi juga dapat menjadi tempat belanja pengalaman yang diinginkan, bukan saja bagi masyarakatnya sendiri, tetapi juga dunia internasional.

    Pidato Jokowi ini sudah merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi masyarakat Indonesia untuk tetap “melek” terhadap perkembangan jaman, agar kita tidak terus ketinggalan dengan Negara lain, tetapi juga dengan sumber daya yang sudah dimiliki Indonesia sejak lama, baik alamnya, maupun manusianya, seharusnya kita sudah bisa bertarung sejak lama dalam kompetisi ini, tinggal kitanya saja yang harus terus belajar dalam mengikuti perkembangan jaman itu sendiri.

    Presiden Jokowi selaku kepala Negara, sudah mengajak masyarakat untuk melakukan persiapan dan pematangan dalam menghadapi arus trend yang berubah ini, sudah seharusnya kita, masyarakatnya, pemerintahan daerahnya, pelaku bisnis dan wiraswasta bahu membahu pada satu visi dan misi. Membangun Indonesia dalam koridor kebhinnekaan.

    Mahasiswa Pertanian PRO PROGRAM JOKOWI yang yakin akan membantu membawa perubahan yang lebih baik. Niat baik, jika di Izinkan oleh Allah maka akan dimudahkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *